Jejak 4 : Pulau Ngenang, Senandung Ragam Atap
| Suasana Pulau Ngenang |
Pulau Ngenang adalah lokasi penempatan yang menjadi rumahku selama 1 bulan lamanya. Dari Sunrise Hotel, Aku harus menyeberang kembali ke tanah Batam. Menuju sebuah pulau yang baru pertama kali aku dengar. Dari Pelabuhan Punggur, Aku dan tim menaiki Kapal Pompong milik nelayan setempat. Perjalanan menuju Pulau Ngenang memakan waktu kira-kira 30 menit lamanya. Sepanjang perjalanan, aku hanya menatap laut dengan backsong suara bising kapal yang kunaiki.
Kami tiba di sebuah dermaga kecil dan waktunya kami untuk turun. Waktu sudah sore, menjelang magrib. Ada kesan horor saat pertama kali tiba. Suasananya sepi, tidak ada satupun orang yang lewat kecuali seorang tokoh masyarakat yang akan kami temui. Beliau menghampiri kami dan mulai meminta salah seorang warga untuk membantu kami membawa peralatan dan logistik.
Baru saja tiba, kami langsung disuguhi pemandangan menuju akhirat. Ada padang pemakaman di hadapan kami. Aku hanya melihat dari kejauhan namun rasanya mengerikan. Kami tiba di rumah salah satu ketua RT setempat. Kami mendapat tempat tinggal tepat disebelah rumah Ketua RT.
Ada lapangan Voli yang cukup besar di depan rumah kami. Ada sebuah sumur juga dengan air yang cukup bersih. Rumah yang kami singgahi cukup besar, ada sebuah 2 kamar tidur, 1 dapur, ruang depan dan kamar mandi yang belum jadi. Kami mandi di rumah Ketua RT, sedangkan anak laki-laki membangun bilik mandi di sumur depan rumah.
Sunyi sekali bila malam menyelimuti pulau Ngenang, di Kota Batam, Kepulauan Riau. Minimnya lampu penerangan jalan membuat pulau ini semakin terasa sepi dan mencekam. Gelap dan dan tak ada masyarakat yang keluar dari rumah mereka. Bila berjalan di setapak jalan yang ada hanya akan terdengar suara senandung melayu yang keluar entah dari radio maupun dvd yang mereka putar. Memang masyarakat di pulau ngenang ini senang sekali mendengarkan musik yang beraneka genre. Sebenarnya tidak hanya musik melayu saja, melainkan ada musik barat, pop, nusantara, dangdut bahkan India. Yaaah, intinya mereka gemar sekali menyalakan musik. Kami para pendatang yang singgah di pulau tersebut merasa terhibur dengan adanya senandung musik tersebut. Musik itu tidak hanya memberikan hiburan bagi kami, melainkan memecah kesunyian dari suara jangkrik yang ada. Memang banyak sekali jangkrik yang berkeliaran, maklum , pulau ini dikelilingi oleh sebagian besar hutan. Sehingga bila malam tiba, hanya suara jangkrik yang menemani tidur malam kami.
Pulau ini menyimpan banyak kenangan. Masyarakatnya ramah dan membuat para pendatang mudah untuk bergaul dengan mereka. Satu hal yang kutau bahwa ketika kami para pendatang telah tiba dan tinggal menetap di pulau ngenang, maka kami sebenarnya telah menjadi satu kesatuan keluarga. Selagi kami menetap dalam waktu hampir seminggu, ada banyak masyarakat yang menawarkan banyak bulir kebaikan kepada kami. Pernah ada yang menawarkan kepada kami pendatang perempuan untuk mencuci di salah satu rumah yang memiliki mesin cuci. Kami sangat senang mendapat tawaran itu. Sangat ramah sekali penduduk Pulau Ngenang.
Mayoritas masyarakat ngenang memiliki pekerjaan sebagai nelayan. Namun ada pula beberapa masyarakat yang bekerja di daerah Batam daratan. Dan alat transportasi yang terlihat di pulau ini adalah sejenis pompong atau pancong. Dan bila ingin mengelilingi pulau Ngenang ini kami dapat melakukan perjalanan darat maupun air. Bisa juga dengan menempuh jarak sekitar 16 km bila dengan berjalan kaki, atau dengan menyewa pompong yang disediakan oleh masyarakat.
Ternyata, hal lain yang kutemukan adalah bahwa di tanah melayu ini ada pula palang pintu. Sepintas sama namun sebenarnya tidak. Tidak seperti yang ada di tanah betawi tempat kelahiranku. Ada banyak masyarakat yang memelihara anjing. Anjing-anjing tersebut kadang sering menutupi jalan setapak yang merupakan jalan satu-satunya yang ada dan dapat kita lewati. Nah, itu lah yang kubilang palang pintu. Namun tidak berpantun. Kadang kami ketakutan bila harus melewati mereka yang sedang berjejer galak. Mereka sepertinya bukan anjing pengejar, melainkan anjing terlatih yang akan bekerja bila ada hal-hal yang tidak seharusnya terjadi.
Maklum sebagian masyarakat ada yang masih mempercayai hal-hal yang mistis. Bahkan tak sedikit pula yang memberi kami petuah dan memperingatkan tentang pantangan-pantangan yang ada di pulau ngenang. Pernah suatu hari, di sebuah sumur yang airnya jernih dan menjadi tempat andalan untuk mencuci, ada seorang bapak yang memperingatkan kami untuk tidak bermain-main di tangga pelabuhan. Dan beliau berpesan kira-kira seperti ini “kalian jangan main-main di tangga dekat pelabuhan yah, tak usah tanyakan kenapa, jangan banyak main disana”. Yah kira-kira intinya seperti itu. Dan kami sebagai pendatang tentunya hanya mengikuti apa yang diberikan oleh masyarakat sekitar.
Yang kusuka dari tanah melayu ini adalah gurindamnya yang terkenal dan menjadi budaya di ngenang. Sehingga ku sebut saja tanah gurindam yah. Selain itu, masyarakatnya yang gemar berbagi daannn banyak anak-anak kecil yang langsung lengket dengan kami para pendatang, termasuk aku. Setiap siang posko kami didatangi oleh beberapa anak yang tiada henti berkunjung. Kebanyakan dari mereka meminta untuk diajarkan pelajaran sekolah, mengerjakan pr serta bermain dan jalan-jalan. Mereka adalah anak-anak penerus bangsa ini.
Hal yang mengharukan adalah ketika kutanya cita-cita mereka satu per satu. Ada yang bilang ingin jadi polisi untuk melindungi masyarakat, jadi pilot biar bisa bawa ibu bapak terbang, jadi dokter untuk mengobati orang sakit, jadi guru agar anak-anak pintar, dan bahkan ada yang bilang ingin jadi seorang mahasiswa. Yah jawaban terakhir itulah yang membuatku kaget, anak-anak itu sangat menyukai mahasiswa yang datang untuk melakukan Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) di pulau mereka. Bagi mereka, kami ini layaknya kakak. Tak terbayang bagaimana nanti kami akan berpisah dengan mereka.
Di pulau ngenang ini terdapat satu sekolah dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan PAUD. Setiap pagi biasanya, banyak anak-anak yang hendak pergi ke sekolah menaiki kaisar yang dibayar oleh masing-masing anak sebesar 1000 rupiah. Dan mereka selalu menyapa dan memanggil kami. Mereka senang sekali diajak belajar dan diceritakan dongeng. Bahkan kemanapun kami pergi, anak-anak itulah yang mengiringi perjalanan kami. Betapa ramai dan riwehnya. Aku bersyukur berada di tempat yang penuh dengan keberterimaan seperti ini. Dengan singgah sementara di pulau ngenang ini, menyadarkan ku betapa Indonesia sangat kaya dan kuat sebenarnya.
Komentar
Posting Komentar