Hai !



السلا م عليكم و ر حمة الله و بر كا ته

Hai! Saya Widyatama Wahyuningras atau biasa juga dipanggil Widya, Widi, Wiwid, Mba Wid, Widyul, Yuliyull, Wod atau apapun yang teman-teman saya gunakan untuk memanggil saya. Ibu saya berkata bahwa widya diambil dari bahasa sansekerta yang bearti orang yang pandai dalam ilmu pengetahuan. Sementara tama yakni sebagai anak perempuan pertama dalam keluarga. Dan nama akhir wahyuningras sebenarnya adalah pemberian nama dari Mbah Kakung saya. Banyak orang salah menilai melalui nama saya, karena sejak SD nama saya dianggap seperti nama anak lelaki.

Saya berasal dari keluarga plus plus. Dimana saya yang tadinya hanya berdua dengan Ibu saya, kini memiliki banyak pasukan lain yang menambah ramai lingkungan rumah saya. Sangat menyenangkan memiliki banyak saudara yang beragam dan datang begitu saja dalam hidup saya. Bila ditanya, saya selalu menjawab bahwa saya memiliki nomor urut 5 dari jumlah keseluruhan urutan pasukan yang lain. Hal yang sangat membuat bahagia untuk saya adalah ketika hari raya maupun akhir pekan, beberapa dari mereka datang berkunjung. Sehingga rumah terasa lebih ramai dan hangat.

Saya memiliki seorang ayah yang menurut saya adalah sosok yang baik, kreatif dan inovatif. Beliau dapat mengubah banyak hal menjadi produktif. Hal yang saya ingat sejak saya punya sosok ayah yang nyata dalam hidup saya adalah beliau mau menemani saya mendaftar SMA. Memang hal biasa, tetapi bagi saya ini adalah hal yang menggambarkan saya mengenai peranan seorang Ayah dalam kehidupan seorang anak perempuan. Untuk kemudian semakin tergambarkan sampai saya menginjak bangku perkuliahan. Beliau yang menemani saya mencari universitas dan menemani dalam setiap tahapan yang harus saya lalui untuk dapat memasuki universitas. Menemani ketika satu per per satu gigi saya harus dicabut, kontrol ke dokter hingga akhirnya saya biasa melakukannya sendiri. Menuntun saya pula agar saya berani membawa motor untuk mengantar Ibu saya. Ohya, dengan hadirnya beliau menambah nuansa demokratis dalam keluarga saya. Sejauh yang saya rasakan, tidak ada bentuk larangan yang benar-benar yang membuat para anak-anaknya merasa terkekang. Beliau mengarahkan setiap anak-anaknya dengan asas kepercayaan dan kepedulian. Tetap mengontrol dan memarahi bila sudah di luar jalur. Ayah saya ini partner berkebun yang baik, dan salah satu anaknya kini bergerak di bidang Agribisnis. Harapan saya nantinya dapat melanjutkan hobi beliau.  

Dan ibu saya adalah sosok yang luar biasa bagi pertumbuhan dan perkembangan saya. Karena beliau pula yang menjadi alasan saya mau belajar mengemudikan motor. Sebetulnya, akibat kecelakaan motor yang pernah saya alami bersama ayah saya, membuat saya tidak mau mendekati motor. Tetapi kini, saya macam joki motor. Hilir mudik kesana kemari, melintasi daerah-daerah besar dan kecil, yang pernah dilewati atau masih dalam tahap penelusuran. Sosok yang tegas dan pejuang yang hebat. Menjadi tokoh inspirasi bagi saya dan penyemangat dalam setiap hal. Memberikan saya banyak wadah yang kemudian dapat membentuk saya. 

Intinya saya memiliki keluarga yang begitu besar, yang kalau orang-orang bilang dapat menjadi tim futsal. Ohiya bila diurutkan dari sekolah dasar, saya lulusan SDN Srengseng Sawah 04 Pagi. Salah satu SD bersejarah dalam kehidupan saya, karena sudah turun temurun mulai dari ibu hingga anak-anaknya bersekolah disana. Kemudian saya lanjut di MTsN 4 Jakarta. Salah satu sekolah yang dipilih ibu saya untuk membentuk pribadi yang islami. Nah, ketika SMA, saya memilih atas asar ada atau tidaknya ekstrakulikuler pecinta alam. Alhasil, masuklah saya di SMAN 38 Jakarta dan masuk pula saya ke dalam ekstrakulikuler tersebut. Karena saat itu, saya merasa kegiatan alam bebas adalah hal yang menyenangkan bagi saya. Di organisasi pecinta alam inilah saya benar-benar ditempa untuk menjadi lebih dewasa, cerdas dan bijaksana. Yang dampaknya dapat saya rasakan hingga sekarang. Walaupun di bangku perkuliahan saya tidak menekuni bidang itu lagi. Namun, kegiatan alam bebas tetap menjadi hobi saya.

Saat menjalani kehidupan sebagai siswi SMA saya pernah didelegasikan oleh sekolah untuk mengikuti kegiatan pelatihan dan pendidikan sukarelawan bahari di Kepulauan Seribu selama empat hari. Kegiatan yang membuat saya semakin sayang dengan potensi alam negara saya. Menambah hubungan pertemanan kepada sesama delegasi dari lingkungan SMA Se-JaBoDeTaBek. Kemudian saya yang saat itu masih dalam tahap belajar dalam bermain biola, diajak oleh sekelompok kawan untuk tampil di acara pentas seni SMA di Jakarta, dan berkesempatan tampil di Istora Senayan. Hal yang sangat tidak terduga bagi saya dapat mengalami hal itu. Pelajaran tentang keberanian saya dapatkan di SMA ini.

Selanjutnya memasuki dunia perkuliahan, saya mencoba mengikuti beberapa kegiatan seperti himpunan kemahasiswaan, organisasi peminatan hingga komunitas. Sepanjang tahun 2013 – 2014 saya menjadi anggota organisasi Dapur Seni dan menekuni bidang musik. Kemudian tahun 2014 – 2015 saya mencoba berorganisasi dan diamanahkan menjadi bendahara umum pada Organisasi Peminatan Keilmuan (OPK) Dapur Seni juga sebagai staff ahli dalam divisi seni di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Agribisnis. Pada tahun-tahun ini, saya bersama beberapa rekan kampus pernah pula berkesempatan mengikuti kegiatan lomba Video Sosial Pertanian yang diadakan oleh Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia (POPMASEPI) yang saat itu di Yogyakarta. Dan Alhamdulillah, tim yang saya ikuti mendapatkan juara 2 dalam kegiatan tersebut. Kebahagiaan sekaligus kebanggaan karena karya yang diciptakan bersama dapat diapresiasi sedemikian baik. Selanjutnya pada periode tahun 2015-2016 saya berkesempatan lagi menjadi bendahara umum pada OPK Dapur Seni juga sekrtaris pada HMJ Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sepanjang kehidupan di bangku kampus, saya mengikuti pula sebuah komunitas musik yakni Komunitas Gesek Kamar Wina, dimana menurut saya adalah tempat yang sesuai untuk belajar dan mengembangnkan hobi saya. Sebuah wadah bagi para pemusik yang memainkan alat musik gesek seperti violin, viola dan cello. Tidak hanya itu saja, baru-baru ini saya senang sekali menulis. Sebenarnya sejak SMP menulis menjadi salah satu hobi yang sering saya lakukan di waktu senggang. Berawal dari menulis buku harian hingga mencoba mengikuti berbagai kompetisi menulis fiksi lainnya. Namun sulit yang saya rasakan untuk memberikan karya yang terbaik, sehingga tidak ada satupun naskah yang lolos. Namun, Alhamdulillah, sekitar tahun 2014 -2015 saya lolos menjadi salah satu kontributor pada buku antologi puisi Filosofi Semut. Dan hal inilah menjadi suntikan semangat bagi saya untuk terus menulis hingga sekarang.

Saya merasa diberikan oleh Allah SWT orang-orang yang baik, keluarga serta sahabat yang penuh kasih. Begitupula dengan kesempatan dan peluang yang selalu ditunjukan kepada saya. Saya hanya perlu menambah kuat semangat dan tenaga saya untuk menjemput semuanya. Dengan ikhtiar, nasihat orang tua serta tawakkal, insyaAllah apa yang digariskan takkan tertukar. Dan tinggal bagaimana saya menjemputnya. Fighting :)

و  السلا م عليكم و ر حمة الله و بر كا ته


Komentar

Postingan Populer