 |
| Delegasi UIN Syarif Hidayatullah pada KKN Kebangsaan 2016 |
Pengalaman adalah guru yang berharga. Banyak orang berlomba-lomba menjadi produktif untuk mendapatkannya. Mempelajari setiap hal dalam kehidupan, menemukan hal-hal baru untuk membentuk diri dan masa depan. Sekiranya begitu yang aku pikirkan tentang pengalaman. Pengalamanku kali ini tentang mengabdi di sebuah wilayah yang cukup jauh dari Pulau Jawa. Tempat itu bernama Kepulauan Riau. Sebuah tempat yang sebenarnya belum pernah aku bayangkan untuk dipijak tanahnya. Pertama kalinya aku melangkahkan kaki dari Jakarta menuju Kepulauan Riau. Kesempatan itu aku dapatkan semasa aku duduk di bangku kuliah pada akhir semester 6, tahun lalu.
Saat itu, menjelang liburan semester, sudah menjadi hal rutin bagi mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah menempuh sekitar 110 SKS untuk mengabdi dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kegiatan ini dipelopori oleh Pusat Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (KKN-PpMM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dimana tahun 2016 lalu telah dikeluarkan beberapa jenis program KKN. Program KKN itu diantaranya adalah KKN Reguler, KKN Kebangsaan, KKN In Campus dan KKN Kebangsaan. Sama seperti mahasiswa lainnya, pada bulan Maret lalu aku mendaftarkan diri untuk mengikuti kegiatan tersebut. Melalui program AIS (Academic Information System) aku mengisi data diri dan memilih dua program KKN yang ada.
KKN regular adalah KKN wajib yang harus dipilih oleh mahasiswa dimana pada kegiatan ini lokasi pengabdian berada di daerah Bogor dan Tangerang. Sementara satu lainnya, aku memilih KKN Kebangsaan yang sebenarnya belum aku ketahui detail informasinya. Setiap mahasiswa sebenarnya boleh saja mengisi keduanya dengan program KKN regular. Hanya saja, saat itu ada rasa ingin tahu yang cukup tinggi, seperti apa proses yang harus aku jalani untuk lolos mengikuti KKN Kebangsaan.
Sistem
pembagian kelompok KKN oleh PpMM belum aku mengerti. Pada pertengahan
April 2016 PpMM mengumumkan bahwa aku telah tergabung dalam sebuah kelompok KKN regular. Anggota KKN
kelompokku saat itu beranggotakan 10 orang dari berbagai fakultas yang berbeda. Aku
cukup bingung karena posisiku saat itu masih menggantung. Aku belum
mengetahui informasi lanjutan mengenai KKN Kebangsaan. Aku pernah mendengar
senior yang sebelumnya menjadi alumni KKN Kebangsaan 2015 bahwa prosesi yang harus
dilalui cukup sulit, karena mereka harus melalui tahap pengumpulan berkas,
penulisan essay dan terakhir wawancara. Semangatku cukup menggebu-gebu agar aku
dapat lolos menjadi delegasi KKN Kebangsaan 2016. Namun, informasi mengenai
seleksi belum kunjung aku dapatkan. Sampai akhirnya, pada acara pembekalan KKN
aku mendapatkan jadwal seleksi KKN Kebangsaan. Seleksi yang aku ikuti hanya
dua, yaitu pengumpulan berkas dan wawancara. Pada hari-hari menjelang
seleksi, aku semakin semangat mengikuti KKN Kebangsaan, namun semakin dekat
pula dengan teman-teman kelompok KKN regular. Saat itu aku mulai merasa, bahwa
aku dilema diantara dua kemungkinan.
Aku
mengumpulkan berkas akademik ke kantor PpMM pusat yang ada di lantai 3 gedung
rektorat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada sebuah ruangan yang tidak
terlalu besar itu aku menyerahkan lembar yang menyatakan nominal IPK ku. Pihak
PpMM menyebutkan bahwa standar IPK untuk lolos ke tahap selanjutnya adalah 3.5.
Keberuntungan nampaknya berada di pihakku saat itu, nilai IPK ku hanya lebih
0.1 dari standar yang ditetapkan. Alhamdulillah aku dapat melanjutkan ke tahap
selanjutnya, yaitu wawancara. Tahap ini dilemaku semakin parah, karena aku menjadi
bendahara di kelompok KKN Regular. Kedekatan juga semakin terasa, dimana aku
bersama mereka menjual lidi-lidian untuk mengumpulkan uang KKN. Semakin sering
ngumpul dan curhat. Sampai pada suatu waktu, aku merasa tidak ingin melanjutkan
seleksi selanjutnya.
Nyaman telah menjalar di tubuhku bersama mereka. Namun,
niatku itu tidak benar-benar aku realisasikan. Sampai akhirnya aku mengikuti
tahap selanjutnya yaitu wawancara. Saat itu pula aku ketahui bahwa salah satu
rekan KKN regulerku tidak melanjutkan seleksi KKN Kebangsaan dengan alasan
tidak ingin meninggalkan teman-teman. Duuh, aku menjadi merasa tidak enak hati.
Namun, aku penasaran, seperti apa wawancara yang akan aku hadapi. Hingga pada
pertengahan April, aku diwawancara oleh Pak Jaka dari PpMM.
Pada
saat wawancara, hal yang seharusnya dipersiapkan adalah mempelajari betul-betul
informasi seputar KKN Kebangsaan, seperti tema, lokasi, panitia penyelenggara, wawasan kebangsaan dan juga keilmuan yang sesuai dengan tema. Tidak hanya
itu, wawasan sosial serta ke-UIN-an juga harus dikuasai. Selain itu semua, versi paling
penting menurutku adalah kejujuran dan keyakinan dalam melewati setiap pertanyaan yang
muncul dari pewawancara. Berdasarkan cerita teman-teman lainnya yang juga
mengikuti seleksi, ada beberapa pewawancara yang meminta calon delegasi untuk
menuliskan essay. Namun, oleh Pak Jaka, aku bersama beberapa calon delegasi
lainnya harus menjawab butir demi butir pertanyaan beliau.
Waktu yang aku
habiskan tidak cukup lama, karena jumlah kami yang diwawancara saat itu sekitar
5 orang, kami langsung diwawancari secara serentak. Beberapa peserta telah
mempersiapkan jawaban dengan sungguh-sungguh. Ada dari mereka yang mencari dari
website KKN, adapula yang bertanya pada senior terdahulu dan ada pula yang
membaca dari internet. Ya, sebelum wawancara dimulai, aku berinisiatif
mewawancarai calon pesertanya. Dengan begitu paling tidak aku jadi kecipratan beberapa informasi.
Dengan
berbekal keyakinan, Alhamdulillah aku mampu melewati semua pertanyaan. Tinggal menunggu saja, kapan
hasil wawancara keluar. Informasi saat itu, pengumuman akan dikirimkan pada
akhir April. Pada waktu-waktu menunggu itu, aku cemas. Ada rasa takut tidak
terpilih, karena aku sangat ingin tergabung menjadi delegasi KKN Kebangsaan.
Hari demi hari berlalu, hingga sampailah pada akhir April. Ohya, pengumuman hasil wawancara akan dikirimkan melalui SMS atau telepon. Aku mengamati Handphone ku, namun tidak ada yang SMS
atau telpon dari PpMM.
Aku menunggu dan terus menunggu sampai akhirnya bulan
Mei tiba. Aku tidak mendapat kabar yang menyatakan bahwa aku lolos mengikuti
KKN Kebangsaan. Kecewa memang, namun saat itu aku mencoba meyakini hati bahwa
ini adalah jalan yang terbaik yang harus aku terima. Lagi pula, aku sudah
memiliki rekan kelompok yang seru. Pelan-pelan aku mencoba melupakan KKN
Kebangsaan dan fokus menyusun program kerja yang akan dijalankan bersama kelompok KKN Regulerku. Sampai akhirnya aku merasa telah berhasil melupakan kekecewaan akibat gagal lolos seleksi KKN
Kebangsaan. Tibalah masa dimana aku bersama rekan KKN regular mendapatkan informasi penempatan lokasi KKN, yaitu di Desa Cigudeg, Bogor.
Dan aku mulai membayangkan keseruan mengabdi bersama rekan KKNku.
 |
| Foto 2. TIM KKN Reguler (Tama-Arif-Fikri-Isti-Widya-Putri) |
12 Mei 2016, aku
mendapatkan kabar yang membuat sedih sekaligus bahagia. Aku lolos seleksi KKN Kebangsaan dan akan berangkat ke
Kepulauan Riau pada bulan Juli. Aku belum memberikan kabar itu pada seluruh teman KKN regular, hanya satu yang tau, namanya Putri. Namun, satu persatu teman
akhirnya kuberi tau. Aku berpamitan. Mereka adalah orang-orang terbaik yang
pernah aku temui. Mereka menyemangatiku dengan tulus. Bahkan, hingga saat ini
pun, aku masih berkomunikasi dengan mereka. Mereka adalah salah satu semangat
dari semangat yang lain. Aku sempat berpikir bahwa cara yang dilakukan oleh
PpMM jahat. Ini adalah cara yang menyakitkan, dimana posisi menggantung itu
tidak enak. Disaat aku telah menggebu, kemudian kecewa, dan berhasil menggebu
lagi dengan satu lainnya, tiba-tiba informasi menyatakan bahwa aku harus
meninggalkan satu lainnya itu.
Aku jadi bertanya, sesakit itukah harap? Sesesak
itukah cemas? Seperti itukah menerima kenyataan? Mendadak drama. Namun, sejak
saat itu, aku belajar sisi lain dari ikhlas dan aku yakin akan ada rencana lain
yang lebih indah dibalik kehendak-Nya. Aku pun percaya, bahwa yakin yang begitu
kuat dapat membawa kita mencapai tujuan. Dengan berbekal keyakinan, diniatkan
dengan basmallah, aku siap untuk turut serta bergabung dengan mahasiswa dari
seluruh Universitas di Indonesia untuk mengabdi bersama dan menyumbangkan
pikiran serta tenaga untuk kehidupan yang lebih baik. Niat itulah yang aku
tunaikan dan tekadkan untuk menghadapi KKN Kebangsaan 2016.
Komentar
Posting Komentar