Jejak 3 : Rumah Nusantara
Sebanyak 20 Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berangkat menuju Kepulauan Riau untuk menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan 2016. Ini penerbangan pertamaku dan kalian sudah bisa tebak bagaimana takjubnya aku melakukan perjalanan udara pertamaku. Aku memang sangat bahagia namun ada perasaan khawatir. Berbagai berita buruk tentang pesawat terbang membuatku sedikit bergidik ngeri.
Aku tiba di Bandar Udara Hang Nadim, Kota Batam, Kepulauan Riau sekitar waktu Zuhur. Banyak sekali mahasiswa di sekelilingku yang juga tiba di bandara. Aku langsung mengenalinya karena mereka semua sepertiku. Menggunakan seragam KKN kampus kebanggaan masing-masing.
Aku berjalan ke sekeliling dan mengikuti temanku untuk saling berkenalan dengan mereka.
Yang memakai jaket almamater dogerblue adalah mahasiswa dari Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang.
Mereka yang pakai jaket almamater lightblue adalah mahasiswa dari Universitas Lampung (UNILA).
Masih banyak lagi kelompok mahasiswa dengan jaket almamater yang berbeda-beda.
"Wah, keren sekali ya, aku mendapat kesempatan untuk menambah pengalaman disini bersama mahasiswa dari seluruh Indonesia", pikirku saat itu.
Tidak lama, pembimbing kami mengumpulkan untuk berangkat ke tujuan pertama, yaitu Hotel Sunrise di Bintan. Aku bersama seluruh mahasiswa di bandara itu akan segera memulai perjalanan yang seru. Aku menaiki salah satu bis. Kami satu bis dengan mahasiswa dari universitas lainnya. Seingatku, ada mahasiswa dari ISI Padangpanjang dan Unila yang satu kendaraan denganku.
Aku bertanya-tanya, kemanakah bis ini membawaku.
Pemandangan di sekelilingku sungguh asing tapi indah. Pengalaman pertama selalu punya hal yang magis untuk dikenang. Aku semakin girang, karena yang ku lihat di depanku tertulis Pelabuhan Punggur, Batam. Itu artinya aku akan menaiki kapal.
Benar saja, aku menaiki sebuah Kapal RoRo (Roll on Roll Of) menuju Tanjung Uban, Bintan. Di kapal inilah aku bertemu teman-teman dari Aceh, Merauke, Serang, Makassar, Medan, Kalimantan, Bangka Belitung, Padang, Bengkulu dan banyak lainnnya.
Ohya, sebelum keberangkatan, aku sudah memiliki kelompok KKN, ada sekitar 13 orang di kelompokku. Dan di Kapal RoRo inilah aku bertemu dengan seluruh teman kelompokku.
Setibanya di Tanjung Uban, aku langsung naik bis lagi menuju Hotel Sunrise. Ternyata, setibanya aku disana, sudah banyak sekali mahasiswa yang berbaris berdasarkan kelompok. Aku rasa saat itu, kami terlambat tiba di hotel ini.
Aku kira hotel akan berpenampakan seperti hotel. Gedung tinggi bertingkat dan seperti apartemen. Tapi bagiku, hotel yang akan aku tempati layaknya homestay. Aku tidak melihat bangunan tingkat disana.
Aku kaget ketika namaku dipanggil oleh Komandan Tentara disana. Ia memanggil namaku berkali-kali dengan nada tegas. Aku tahu, bahwa seluruh mahasiswa disini akan dididik dulu oleh mereka sebelum diterjunkan di daerah masing-masing.
Aku bergegas meletakkan carrier ku yang super berat dan berlari menuju barisan kelompokku. Setelah penjelasan oleh Komandan, Aku mulai ditempatkan di sebuah rumah yang berisi beberapa kelompok.
20 Mahasiswa UIN kini sudah berpisah bersama kelompoknya masing-masing. Mulai saat ini, aku sendiri yang menentukan diriku. Apakah berbaur atau tidak. Dan aku pilih untuk bangun pertemanan dengan mereka.
Hari-hari di Hotel layaknya hari karantina bagiku. Hidup ku serba terjadwal. Sehabis subuh melaksanakan apel pagi-olahraga-sarapan-menyimak materi-makan siang-menyimak materi lagi-istirahat-menyimak materi-tidur. Bahkan makan pun disusun berjejer layaknya liwetan. Dan tidak boleh ada satupun makanan yang tidak habis. Sudah jadi kewajiban bagi teman satu kelompok untuk menghabiskan makanan teman yang tidak habis.
Banyak keunikan yang terjadi, seperti makan nasi goreng rasa bumbu mentah hingga hampir setiap waktu makan ikan tongkol. Aku rasa bukan hanya diriku, melainkan seluruh peserta KKN mulai ke-tongkol-an.
Momen paling berkesan bagiku yaitu ketika menyimak penjelasan setiap pemateri. Ada materi tentang kebangsaan, wawasan kelautan hingga pengolahan makanan dari hasil laut. Tidak hanya itu, aku sangat terharu ketika lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Aku teringat akan tujuan dari KKN Kebangsaan ini, yaitu menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) untuk memperkuat jiwa nasionalis serta mempertahankan pulau untuk berada di wilayah teritorial Indonesia.
Aku merasa tanggung jawabku sebagai mahasiswa idealis begitu besar untuk kemajuan negeri ini.
Setelahnya aku mendengar Gurindam kebanggaan Tanah Melayu yang kupijak, yaitu Gurindam 12. Membuatku semakin semangat.
Di hari terakhir sebelum penempatan, ada malam perpisahan yang menurutku adalah malam gegap gempita. Berbagai kampus menampilkan ciri khas wilayahnya. Ada yang menari, stand up comedy, puisi, ada pula yang melakoni drama.
Bagiku, malam itu adalah malam pesona Indonesia. Malam yang menyatukan kita semua menjadi satu Rumah Nusantara. Esoknya, perjalanan baru dimulai.
Komentar
Posting Komentar